Gedung Pertemuan Linggarjati


linggarjati rosihan anwar.jpg

Linggarjati terletak di kecamatan Cilimus, kabupaten Kuningan. Di desa ini, menurut pengakuan warga memiliki empat nama yaitu Linggarjati, Linggajati, Lingajati dan Lingarjati. Nama yang lebih populer adalah Linggarjati. Ditempat ini, perundingan bersejarah yang dikenal dengan nama Perundingan Linggarjati berlangsung 10 – 15 November 1946. Salah satu isi perundingan tersebut merupakan pengakuan Belanda secara de facto terhadap Republik Indonesia meliputi Sumatera, Jawa dan Madura. Informasi awal ini terletak di Papan pengumuman di pintu masuk Gedung Linggarjati.
Begitu masuk kita akan di sambut oleh petugas tiket, sewaktu saya kesana petugasnya adalah perempuan dua orang, mereka duduk di kursi sederhana dengan buku tamu yang tebal. Kita dipersilahkan untuk mengisi daftar tamu, dan membayar tiket seharga Rp. 2.000,- . Jika kita masuk di hari Sabtu dan Minggu, biasanya banyak rombongan wisatawan baik itu anak-anak sekolah yang menggunakan armada Bis ataupun angkot. Para Pemandu Gedung Linggarjati yang terdiri dari pria seusia paruh baya yang mengenakan seragam coklat khas seragam tentara kemerdekaan tahun 45-an. Selain anak-anak yang dibawa oleh guru-guru mereka, di rombongan wisatawan ada juga sekelompok orang dewasa atau keluarga.

Di ruang petugas tiket, ada bagan denah gedung perundingan Linggarjati dan juga bagan sejarah berdirinya gedung tersebut. Tahun 1918 berdiri sebuah gubuk milik Ibu Jasinem. Tahun 1921, oleh seorang warga Belanda di rombak menjadi bangunan semi permanen dan sembilan tahun kemudian menjadi milik keluarga Van Oz. Sepuluh tahun sebelum kemerdekaan, gedung tersebut dikontrak oleh Mr Theo Huitker untuk dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD. Tahun 1942, Jepang menjajah Indonesia dan hotel ini diganti menjadi Hotel Hokay Ryokan. Setahun setelah kemerdekaan, Gedung ini dijadikan tempat perundingan sehingga lebih dikenal dengan Gedung Perundingan Linggarjati. Tahun 1948-1950 sejak aksi militer tentara ke II, gedung ini jadi markas Belanda, kemudian sempat menjadi sekolah dasar negeri linggarjati selama 25 tahun. Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung membawa pesan bahwa gedung akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah dasar negeri Linggarjati. Tahun 1976 Gedung ini oleh Pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Nasional.

Para peserta perundingan Linggarjati adalah DR SCHEMERHORN, DR VAN MOOK, DR VAN POOL, SUTAN SJAHRIR, MR MOEH ROEM, MR SOESANTO T, DR A K GANI dan mediatornya adalah LORD KILLEARN dari Inggris. Lord Killearn menginap di gedung Linggarjati tetapi Presiden RI Pertama Soekarno, menginap di Kuningan yang sekarang adalah Taman Kota (bukan pendopo Kuningan yang sekarang, keterangan ini saya dapatkan dari salah satu guide di Linggarjati). Sebelum perundingan, Soekarno sempat berbincang dengan Lord Killearn yang diabadikan dalam sebuah foto yang dipajang di gedung Linggarjati.

Yang menarik perhatian saya adalah piagam penyerahan kedaulatan yang di pampang di salah satu kamar gedung Linggarjati. Dalam piagam tersebut dinyatakan bahwa Kerajaan Netherland menyerahkan kedaulatan sepenuhnya kepada Republik Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat dan mengakui Negara RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat, tertanggal Amsterdam tanggal 27 Desember 1949. Belanda menyerahkan kedaulatan yang di sebutkan atas nama Ratu Juliana. Perundingan Linggarjati adalah lanjutan dari konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan di kota Gravenhage, Belanda pada tanggal 2 November 1949. Diterangkan bahwa Indonesia yang diwakili oleh Drs Mohammad Hatta menerima penyerahan kedaulatan Indonesia.

Isi Piagam Penyerahan kedaulatan dalam pasal 2, menerangkan bahwa Irian, pendirian masing masing pihak (dhi. Belanda dan Indonesia) masih belum ditemukan kesepakatan, dan statusnya masih dalam pertikaian ketika perjanjian ditandatangani. Tapi patut dicermati di sini, mengenai Irian bukanlah hasil perundingan Lin

ggarjati tapi merupakan perundingan yang ditandatangani di Amsterdam tanggal 27 Desember 1949.

memasuki ruang tengah ada meja dan kursi yang memang sesuai kondisi sejarah, tempat para delegasi Belanda dan Indonesia berunding. di bagian lorong menuju kamar tidur ada foto-foto wartawan asing yang menggunakan mesin ketik duduk di undakan. Yang tidak kalah serunya menurut saya adalah foto Rosihan Anwar salah satu jurnalis dan author Indonesia ikut dipajang di gedung linggarjati.

Kita beranjak keluar, di suguhi pancuran sederhana, dan sayap sebelah kiri ada rusa sebanyak lima ekor yang memanjakan mata pengunjung. Sayangnya ketika saya datang suasana sedang kemarau jadi lapangan di sekitar gedung pertemuan Linggarjati tidaklah hijau. Diarea taman, kita dapat melakukan piknik sederhana, tidak usah menggelar tikar, kita buka saja bekal makanan yang memang harus kita siapkan jika ingin piknik di area Linggarjati. Tapi mohon diingat untuk tidak membuang sampah sembarangan.

selesai tour di gedung Linggarjati saya dan keluarga pulang, hanya ada sedikit yang menohok dada. Biaya parkirnya sebesar Rp. 5.000,- waw kok lebih mahal dibandingkan masuk ke Gedung Linggarjati yah, pikir saya. Ah sudahlah. Tapi saya berharap kalau pengelola setempat lebih mau berinovasi misalkan pada saat kita masuk ke area gedung sudah komputerisasi dan di atur load wisatawan yang masuk sehingga tidak bergerombol terutama di hari libur. Bukankah lebih masuk akal jika tiket Rp. 5.000 dan parkir Rp. 2.000 ?

linggarjati prasasti

Pengunjung juga harus betul-betul di edukasi untuk tidak menyentuh atau melakukan tindakan yang dapat merusak museum.

Salam Heritage

Published by Nenkreni

hobby baca, nulis, bankers, an independent journalist, writerpreneur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: