TERSANGKA-CHAPTER 1


AUTHOR KRASIVAYA

CHAPTER 1

Prolog 

Jam rolex ditangan kirinya menunjukkan pukul 02.14 wib. Onur lebih suka mengenakan jam tangan disebelah kiri, bukan karena dia seorang semi kidal tetapi lebih karena tangan kanannya tak sempurna lagi. Ada bekas luka bakar sepanjang siku kanan mencapai pergelangan tangannya. Luka yang diakibatkan kecerobohannya dalam suatu operasi. Dan setiap kali dia menjalankan operasi-operasi berikutnya, tangan kanan selalu menjadi pengingat yang dapat menghancurkan konsentrasinya.

 Menuju dini hari selalu meningkatkan kewaspadaan Onur. Waktunya bekerja. Persiapan selama satu bulan untuk menyelesaikan misi yang dirancangnya. Misi yang dia namakan Kuda hitam tidak boleh gagal. Tiga orang partner Onur menunggu dalam diam perintah dari sang Kepala Tim.

Sarung tangan dan penutup muka tak menghalangi kepekaan Onur dan ketiga partnernya dalam menjalankan operasi kuda hitam. Kacamata SENVG yang dapat menembus gelap terpasang rapi. Senjata revolver .38 tersarung di pinggang rampingnya. Hanya Onur yang memakai senjata, ketiga partnernya memiliki keahlian yang berbeda. Elang yang bertubuh kurus kering, ahli IT. Jodi, yang memiliki codet diatas alis mata coklatnya, sangat jeli soal hardware yang ketiga Ramido, bertubuh kekar dan maniak olahraga boxing jangan ditanya lagi soal kekuatan fisiknya ditambah Onur dengan tinggi 182 cm dan kecerdasan yang tak diragukan dengan tindakan yang terukur dalam setiap operasi menjadikan mereka tim yang tak pernah gagal dalam setiap operasi yang diperintahkan Agen Pusat 001.

Ramido yang mengemudikan mobil Jeep mereka melirik sekilas pada Onur, Onur menganggukan kepala dan roda-roda mobil meluncur membelah keheningan kota. Bekas Highway yang  mereka lewati tetap terdiam kaku, disamping kanan kiri tembok pembatas jalan yang diselingi oleh pohon-pohon trembesi yang menjulang kokoh. Onur tidak mau mengambil resiko mengambil highway yang ada petugasnya. Jalan alternatif ini sudah Onur perhitungkan dimana tidak terdapat kamera-kamera pengawas sialan.

Tepat lima belas menit kemudian target operasi kuda hitam sudah mulai nampak. Onur menghela nafas, ketika Ramido menghentikan mobil tepat di depan Galeri ATM. Seperti dugaannya, Satpam sedang tertidur lelap. Mereka membuka pintu mobil, tetapi tidak menutupnya kembali.  Jodi yang pertama membuka pintu gallery atm, dia kemudian, memutus semua aliran listrik semua kabel yang tersambung ke cctv, Onur mendekati petugas Satpam yang mendengkur, revolver dia siapkan terarah ke kaki petugas malang itu, tidak ada tanda tanda penjaga itu akan bangun.

Onur melihat Elang, menyambungkan sebuah cpu ke mesin atm, ada sepuluh deret mesin atm berbagai bank. Jika waktu mereka cukup, operasi mereka akan terhenti di mesin atm ke-5. CPU milik Elang dengan segera membuat ke sepuluh mesin ATM menyala kembali. Setiap perbankan memiliki system yang memantau kondisi On Atm mereka, jika ada salah satu system atm down selama lebih dari lima belas menit, sentra pengawas masing-masing atm pasti akan langsung alert dan mengirimkan petugas perbankan ke lokasi. Dengan Cpu dan kecerdikan Elang, alat tersebut bisa membuat mesin atm tetap on padahal kondisi sebenarnya adalah mesin ATM off total.

Jodi mengeluarkan alat las, percikan api dan suara mendesis membuat onur lebih waspada, petugas jaga atm tetap masih terlelap. Satu mesin atm terbuka brankasnya, dan dengan mudah Ramido menarik empat kotak brankas mesin atm pertama mereka. Ramido langsung memindahkan kotak uang ke dalam mobil. Jodi mulai membongkar mesin atm ke dua. Tapi gerak Jodi terhenti dan dia memberikan isyarat pada Onur untuk mendekat. Onur menyadari, Jodi pasti menemukan kesulitan, tetapi penjaga di depannya juga harus dijaga, akhirnya Onur memberikan isyarat balik supaya Elang mendekat, Onur memberikan Revolvernya ke tangan Elang. Elang sedikit membelalak. Urusan Senjata Elang paling benci, tapi bukan berarti dia tidak bisa menembak.

“Lebih baik kau lumpuhkan saja” bisik Elang.

Dengan satu pukulan telak yang dilayangkan Onur di pundak sang penjaga, penjaga itu tersungkur tanpa ampun pingsan. Elang segera mengeluarkan tali, kain penutup mata dan lakban untuk menbereskan si penjaga yang tak berdaya. Pingsan.

“Kenapa?” tanya Onur pada Jodi setelah berada di ruangan ATM.

“Mesin Atm kedua memakai angkur kita tidak bisa mengangkutnya. “ jawab Jodi frustasi. Onur tahu jika setiap mesin Atm ada yang lebih safe dengan menggunakan angkur, dimana brankas ditanam diperkuat oleh angkur. Sial!!! seharusnya mesin atm di kota baja ini lambat berinovasi tapi ternyata bisnis perbankan sudah ada yang menggunakan angkur untuk mesin atmnya.

Onur melirik pada mesin ATM pertama, setelah mengecek merknya, Onur kemudian mengambil spidol dan langsung menandai 3 mesin ATM yang sama merknya dengan mesin ATM pertama yang berhasil digasak. Hanya ada 3 mesin atm, setelah Onur selesai menandai mesin atm yang jadi target operasi, Jodi dengan sigap langsung mengelas dan Ramidi mengangkut kotak-kotak brankas.

Waktu seperti berjalan sangat lambat, beginilah perasaan yang dialami Onur setiap mereka melakukan kejahatan. Jam Rolex mengeluarkan bunyi bip, tepat ketika Elang dan Ramido sudah berada di dalam mobil. Onur menaiki kursi dibagian depan, dan yang terakhir masuk kedalam mobil adalah Elang, meninggalkan penjaga yang tak sadarkan diri dan sebentar lagi terbangun dalam mimpi buruknya.

Deru nafas mereka masih memburu, setelah mereka melalui rute bekas highway kembali, baru satu persatu membuka sarung tangan dan penutup kepala serta kacamata mereka. Onur yang terakhir membuka penutup kepala.

“Aku sudah berjanji kalau ini adalah misi terakhirku.” Jodi membuka pembicaraan. Semua terdiam

“Kalimat itu rasanya pernah aku dengar empat bulan yang lalu.” Ramido membalas ucapan Jodi disambut gelak tawa mereka.

BAB 1

Bunyi pesan whatsapp yang bertubi-tubi, membuat Damai terbangun. Malam hari sudah menjadi ritual Damai, dia akan mematikan handphone dan mengisi baterainya semalaman. Bukan tindakan yang bijaksana memang, mengingat ledakan handphone yang sering muncul di berita media massa. Tapi semalam Damai lupa, setelah mandi dia langsung melempar handphone ke meja dan merebahkan badan di kasur empuknya. Dan hasilnya, pagi ini dia terbangun dengan melodi pesan-pesan whatsapp yang mulai berdatangan.

Iswah  06.00

To All Leader

Rapat konsolidasi dihadiri oleh semua kepala Tim

Hari       : Senin, 5 Januari 2017

Tempat : Ruang Meeting Lt 3

Agenda : Sinergi Penjualan dan Logistik

Pukul    : 10.00 wib sd 14.00 wib

Bersama Kita Bisa

Prepare data Please!

Damai membaca pesan WA saja sudah muak sampai ulu hati. Semenjak kedatangan Iswah setahun yang lalu mengganggu metabolisme suasana kerjanya, dan bukan hanya Damai yang merasa terusik tapi semua orang yang berada dibawah divisi Iswah. Sifat licik Iswah mulai terasa tepat sehari setelah Damai berjabat tangan dengan Iswah.

Iswah adalah Kepala manager yang tepat membawahi divisi logistik yang dikepalai Damai. Tagihan-tagihan restoran dengan alasan entertaint customer selalu muncul di meja Damai sejak kemunculan Iswah. Damai kemudian melakukan crosscheck ke Divisi Penjualan yang dikepalai Sukmiaji, tapi Aji panggilan akrabnya hanya mengangkat kedua tangan keatas tanda menyerah. Damai langsung paham. Sebulan dia biarkan kelakuan Iswah, tapi menginjak bulan kedua, Damai mulai mengeluarkan taringnya. Dia selalu menolak tagihan yang disodorkan Iswah jika tagihan itu tidak ditandatangani oleh 2 pemimpin divisi lainnya dan Vice President Mr. Arco. Mister. Arco, 53 tahun  adalah orang lokal asli, bermata coklat dan kulit putih karena penyakit pigmen kulit albino menyebabkan dia dipanggil Mister. Arco hanya kekantor seminggu tiga kali, dia tidak pernah rewel dengan tagihan pengeluaran yang dikerjakan oleh Damai.

“Kenapa, Iswah mulai berulah?” Tanya Mr. Arco satu kali saat Damai menyodorkan tagihan club ternama di Kota Baja.

“Bukan berulah, tapi mulai menyebalkan.” Ujar Damai. Damai sudah merasakan hubungan dengan Mr. Arco seperti kepada ayahnya sendiri.

“Kalau kamu mencium bau yang tidak beres, tolak saja tagihannya.” Mr. Arco tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.

“Aku tidak seberani itu.”

“Kenapa kamu tidak berani? Pengeluaran perusahaan ini ada dibawah kendalimu.” Mr. Arco menatap tajam.

“Ya, tapi dia juga atasanku, yang dengan secuil kekuasaannya dapat melemparku ke divisi di luar cabang.” Damai memainkan bolpoinnya.

“That’s will never happen to you.” Arco berdiri.

“Mr. Arco saja yang menyampaikan itu pada Iswah. Dia akan jauh lebih mengerti kalau anda yang menyampaikannya.” Damai berkeras.

“Kamu tahu Damai, kalau aku yang harus menyampaikan urusan sepele ini, apa gunanya aku hire kamu sebagai kepala logistic yang mengatur semua cashflow dan bertanggung jawab pada efisiensi dana yang dikeluarkan perusahaan kita?” Arco tersenyum.

“Iswah pasti akan berdalih bahwa pengeluaran yang dia tagihkan pada perusahaan untuk kepentingan perusahaan dan menghibur customer.” Damai menghela nafas tidak tahu bagaimana cara meyakinkan Mr Arco, bahwa bukan dirinya yang berkapasitas untuk menegur Iswah.

“Pikirlah dengan otakmu, jangan gunakan perasaan wanitamu. Sekarang aku kembalikan lembar tagihan ini padamu, tanpa aku tandatangani.”

“Setidaknya Anda bisa menuliskan kalimat penolakan disitu.” Damai menyodorkan bolpoinnya pada Mr. Arco.

“Nope, You tell him.” Menjadi kalimat pengusir Mr. Arco pada Damai.

Sejak Damai keluar dari ruangan Mr. Arco akhirnya dia mengibarkan bendera perang terang-terangan dengan Iswah. Setiap tagihan Iswah selalu dia persulit, Damai akan meminta anak buahnya untuk cross check dengan divisi Penjualan, dan semua kegiatan Iswah yang menjadi beban pengeluaran kantor, Damai selalu minta dokumentasi serta ada anggota tim penjualan yang diwajibkan ikut di acara Iswah.

Iswah akhirnya sadar geraknya dipersempit oleh Damai, dan imbasnya adalah Damai tidak bisa pulang cepat, dia dipaksa untuk meninggalkan kantor tidak kurang dari jam 11 malam setiap harinya. Edan. Iswah selalu minta rapat dengan semua kepala divisi tapi membicarakan hal hal yang tidak crusial.

Seperti malam tadi, dia baru pulang tepat jam 12 malam seperti Cinderella saja, bedanya bukan pangeran tampan yang mengajaknya berdansa tapi monster jahat yang menahannya untuk pulang. Pagi ini setelah membuka pesan yang menginformasikan akan ada meeting kembali, membuat langkah Damai ke kamar mandi semakin gontai.

“Ini tidak benar.” Geram Damai dalam hati. “Makhluk seperti dia harus dibinasakan.”

Damai melemparkan begitu saja baju yang melekat dibadannya, membuka kran dan mengatur suhu hangat. Setidaknya mandi pagi ini dia harap bisa mengusir sebentar kebenciannya terhadap Iswah.

“Terima kasih pak.” Damai membuka pintu mobil Grab dengan cekatan dan menutupnya tak sempat mendengar ucapan terima kasih kembali dari pengemudi mobil Grab. Kehadiran aplikasi dan maraknya transportasi online benar-benar menjadi penyelamat hidup Damai yang tidak bisa menyetir. Damai terlahir bukan dari keluarga kaya, yang sedari kecil sudah memiliki mobil sehingga mendorong untuk bisa mengemudi. Mama Papa Damai adalah guru honorer yang harus membesarkan lima orang anak dan kesuksesan keduanya adalah sanggup mengantarkan anak-anak mereka jadi sarjana, tanpa fasilitas mobil pribadi dan rumah mewah tentunya.

Damai berjalan tergopoh-gopoh, karena keasyikan menikmati air hangat dia berada 30 menit dikamar mandi. Sementara Jam Tujuh pagi setiap hari Senin, Iswah menerapkan aturan baru bahwa setiap karyawan Bank Intra harus masuk tepat pukul tujuh untuk briefing 15 menit. Padahal jam kerja menurut aturan pusat adalah pukul delapan.  Jam tujuh pas. Karyawan yang lain sudah duduk manis di ruang meeting.  

Wajah Iswah yang bulat dengan hidung pesek tegak menambah keburukan dengan senyum sinis yang tersungging. Damai ingin rasanya menonjok wajah Iswah yang pasti akan menghilangkan senyum sinis Iswah. Damai meringis sendiri membayangkan fantasinya menganiaya Iswah.

“Oke, orang terakhir yang ditunggu-tunggu sudah datang, kita mulai saja.” Ucapan Iswah dengan telak ditujukan pada Damai, tapi Damai yang mengambil tempat duduk paling belakang dilirik pun tidak oleh Iswah.

“Setan itu tidak membiarkan kita beristirahat sejenak dari tadi malam, aku hanya tidur empat jam malam tadi.” Bisik Sukmiaji tapi tetap memasang tampang wajah manis, tatapan khusuk ke depan.

“Kalau dia tidak bernyawa, baru kita semua bebas.” Balas Damai dengan wajah sama manisnya.

“Apa kita sewa pembunuh bayaran saja?” Tanya Sukmiaji, candaan kejamnya membuat Damai menahan tawa.

“Ya, tapi kamu saja yang bayar, aku tidak sudi mengeluarkan uang satu sen pun untuk monster itu.”

“Bukan kamu yang bayar, aku masukan tagihan ke bagian logistik saja.” Sukmiaji mencoret-coret buku meetingnya seolah olah dia mencatat semua perkataan Iswah.

Damai tidak kuat menahan tawa dan memukul bahu kanan Sukmiaji.

“Divisi Penjualan, Sukmiaji coba report tentang akuisisi dana customer yang menabung di Kita.” Obrolan seru Damai dan Sukmiaji terhenti dengan pertanyaan Iswah.

“Setan alas.” Ucap Sukmiaji lirih tapi kemudian dia membuka buku meetingnya dan mengumumkan perolehan divisi penjualan minggu kemarin.

“Hasilnya belum memuaskan Sukmiaji, apakah kamu ada kendala? Bilang saja kalau ada kendala.”

Sukmiaji menggeleng.

“Jangan ragu-ragu untuk mengeluarkan pendapat kamu Sukmiaji. Pencapaian akuisisi minggu kemarin masih jauh dibawah target, tabungan harusnya perminggu ada indikasi meningkat, tapi ini indikasinya tidak stabil, sekarang naik 10 persen, besok turun 20 persen.” Kejar Iswah.

“Posisi dana itu tanggung jawab kamu, yang tentunya harus disupport oleh tim yang lain, salah satunya logistic.”

Damai menegakkan kupingnya, mendengar kata-kata logistic. Hmmm….sudah jelas bajingan tengik ini ingin menyerang dan mempermalukannya di muka umum.

“Saya sangat mensupport semua tim pak.” Jawab Damai dengan berusaha tenang.

“kamu yakin?” Suasana hening terasa oleh karyawan sekitar 10 0rang yang menghadiri briefing. Damai mengerti harusnya hal seperti ini nanti dibahas pada saat meeting jam 10 pagi, bukannya di Briefing yang hanya memakan waktu 15 menit. Tapi Iswah ternyata tidak sabar untuk mempermalukannya disetiap kesempatan.

“Memang hal apa yang membuat Bapak berpikiran bahwa divisi logistic tidak mensupport divisi penjualan? Damai bertanya balik.

“Divisi logistic harusnya tidak mempersulit tagihan-tagihan yang dikeluarkan oleh divisi penjualan misalnya, tugas logistic hanyalah membayar dan tidak bertele-tele. Semua kegiatan penjualan memang memerlukan biaya entertain yang besar.” Ucap Iswah arogan

Damai menarik nafas. Oke saatnya menembak.

“Ya, logistic tugasnya adalah membayar tapi harus diingat, membayar dengan croscek apakah dana betul betul dipakai untuk menghibur customer atau hanya menghibur diri sendiri? Dan harus diingat ada kode etik disini. Dalam mengentertain customer bukan berarti unit logistic harus membayar layanan kamar hotel plus wine plus wanita penghibur.” Satu tarikan nafas dan semua peserta meeting terkesiap.

Wajah Iswah merah padam.

“Nice shoot” bisik Sukmiaji.

“Memangnya kamu yang Cuma beraninya yess boss saja.” Damai menggertak Sukmiaji.

Tepat pukul delapan pagi briefing selesai, dan itu sebenarnya tidak bisa dikatakan brefing yang fair karena hanya satu arah. Iswah asyik berbuih dengan kata-kata manis dan penyemangat mengemukakan strategi, yang sebenarnya bull shit semua menurut Damai. Kenapa Bull shit, sebab di lapangan semua strategi yang dipaparkan hanyalah teori belaka.

Damai menuju ruangannya di lantai dua, ruang kerja damai berukuran 4 x 4 meter, Dindingnya yang awalnya berwarna putih kaku, Damai ganti menjadi dekorasi mural menampilkan sosok wanita-wanita karier dan bergaya milenial. Walaupun dirinya tidak dapat dikatakan generasi milenial seutuhnya, setidaknya dia lebih menikmati membaca novel fisik dibandingkan dengan menikmati novel e book yang bertebaran di play store.

Sebelum terjun ke dunia perbankan, Damai tidak pernah mengecap bidang lain. Bisnis perbankan yang telah dia geluti tujuh tahun lamanya setelah menyelesaikan S2 bidang manajemen Internasional di Malaysia. Beres kuliah, Damai apply di bank ternama di Kota Baja, dan sudah dapat diduga dia menyisihkan para pro hire lainnya. Damai pertama ditempatkan di divisi Marketing, tapi dia tidak suka karena terlalu banyak harus menghabiskan waktu diluar sementara Damai lebih menyukai pekerjaan di dalam kantor, rapi, wangi dan dalam posisi tidak harus berjualan. Divisi logistic sangat cocok dengan nalurinya, mengatur dan mengkoordinasi semua hal sehingga rapi dan mensukseskan berbagai macam event, tetapi tidak dalam kapasitas menunjukkan jati diri kepada semua orang. Sisi introvertnya lebih kental dibanding sikap extrovert yang dibutuhkan menjadi seorang marketing yang handal.

Wangi parfum kopi ruangannya tercium, Damai sebenarnya tak suka minuman kopi dalam kehidupan nyata, tapi dia menyukai wanginya. Perut kampungnya selalu bereaksi setiap dia meminum kopi, berkali kali ke belakang dan malamnya pasti tidak bisa tidur disertai jantung berdebar. Damai lebih menyukai teh, efeknya lebih menenangkan.

Baru saja dia meletakkan tas, dan meneguk teh manisnya, Wahyu, Kepala Security menghampirinya.

“Mba Damai, kabar buruk.” Ucapnya terengah engah.

Damai menyelesaikan menyesap teh manisnya dan menggenggam gelas dengan super hati-hati menikmati kehangatan air teh hangat disertai tarikan nafas untuk mengatur emosinya. Dia berhitung satu sampai dengan lima supaya tidak terbawa emosi negatif dan terburu-buru yang memancar dari energi Wahyu. Itulah yang dipelajari dari buku healing yang dua minggu kemarin Damai beli.

“Duduk dulu Wahyu, dan tarik nafasmu serta ceritakan dengan jelas.” Damai mengisyaratkan Wahyu untuk duduk.

Wahyu tidak bergerak,

“Mba Atm kita kena gasak, Atm yang di Galery ada 2 mesin. Komang yang jaga sekarang berada di Kantor Polisi.”

“Apa?!!” teriakan Damai disertai suara pecahan gelas berbaur, memekakkan dinding kantor lantai dua.

Published by Nenkreni

hobby baca, nulis, bankers, an independent journalist, writerpreneur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: