Taiwan menyalahkan Cina karena Memperlambat Aksesnya terhadap Vaksin Covid-19. Kenyataannya lebih Rumit


Saat semua negara bergegas untuk memvaksin sedini mungkin penduduknya tahun ini, ada sedikit ketegangan untuk dapat di inokulasikan di Taiwan.

Pulau dengan 23 juta penduduk itu telah mencatat nol infeksi dalam beberapa bulan dan permintaan untuk vaksin sangat sedikit hanya 1% penduduk yang telah divaksin.

Tapi dalam hal pandemi, semuanya bisa cepat berubah. Hari ini Taiwan sedang berjuang melawan wabah terburuknya, dilaporkan lebih dari 1.000 kasus baru dalam seminggu terakhir, dan penduduknya menginginkan vaksin – tetapi tidak bisa mendapatkannya.

Sekarang Pemerintah Taiwan meminta Amerika untuk berbagi vaksin dan mengirimkannya keluar negeri, sambil menunggu vaksin yang lain datang.

Sebetulnya ada solusi yang mudah secara teori bagi Taiwan yaitu : Vaksin Cina.

China telah mengirimkan puluhan juta dosis vaksin yang dikembangkan di dalam negeri ke seluruh dunia. Tetapi ketegangan di Selat Taiwan telah meningkat sejak pandemi, Beijing memblokir partisipasi Taiwan di WHO – Organisasi Kesehatan Dunia, mendekati sekutu Taipei yang semakin berkurang dan meningkatkan tekanan militer di pulau yang memiliki pemerintahan sendiri itu, yang dianggap sebagai bagian dari wilayah Cina.

Di tengah meningkatnya permusuhan dan ketidakpercayaan, Taipei langsung menolak menerima vaksin buatan China dari Beijing, dengan alasan hukum Taiwan yang melarang impor vaksin China untuk digunakan manusia. Langkah Taiwan itu dikritik Beijing yang mengatakanitu sama saja dengan “mengorbankan kesejahteraan rakyat untuk kepentingan politiknya sendiri.”

Taipei tidak melihatnya seperti itu, dan menuduh Beijing memblokir pasokannya, padahal bisa memberikannya.

Pada hari Rabu, juru bicara Kantor Kepresidenan Kolas Yotaka mengatakan di Twitter: “Akses Taiwan ke vaksin terus diperlambat oleh campur tangan China, sementara  kami justru ingin membeli yang buatan China. Jika Anda benar-benar ingin membantu tolong jangan halangi kami.”

Yotaka tidak memberikan rincian tentang dugaan campur tangan Tiongkok. Tetapi pada bulan Februari, Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih-chung mengungkapkan dalam sebuah wawancara radio bahwa Taiwan dan BioNTech akan menandatangani kontrak untuk 5 juta dosis vaksin pada bulan Desember, tapi akhirnya kesepakatan itu gagal karena “tekanan politik”. Sementara BioNTech memiliki kesepakatan distribusi di China yang lebih besar dengan perusahaan yang berbasis di Shanghai Fosun Pharma, Beijing membantah menghalangi kesepakatan Taiwan.

Ketika perang mulut seputar vaksin berkecamuk, kenyataannya peluncuran vaksin Taiwan yang lambat jauh lebih membahayakan dibanding ketegangan geopolitik dengan China.

Suplai Terbatas

Taiwan telah memesan 20 juta dosis vaksin – cukup untuk memvaksinasi 43% penduduknya. Tapi, sejauh ini, baru sekitar 700.000 dosis yang tiba, dan semuanya dibuat oleh AstraZeneca.

Menurut Kantor Berita Pusat (CNA) resmi pulau itu, Taiwan menandatangani kesepakatan dengan AstraZeneca tahun lalu untuk membeli 10 juta dosis vaksinnya. Pada bulan Maret, 117.000 dosis akhirnya dikirim dari pabrik di Korea Selatan, menjadi vaksin pertama yang tiba di pulau itu.

Taiwan juga memesan 4,76 juta dosis melalui COVAX – Inisiasi dunia yang didukung oleh WHO untuk memastikan akses yang adil ke vaksin Covid-19. Pengiriman pertama 199.200 vaksin tiba pada awal April, diikuti pengiriman kedua 400.000 dosis pada hari Rabu.

Pada Februari, Taiwan menandatangani kontrak 5 juta dosis dengan pembuat vaksin AS Moderna. Pusat Komando Epidemi Pusat pulau itu mengatakan vaksin itu diharapkan dilakukan bulan ini. Berdasarkan laporan CNA, Pekan lalu, pejabat tinggi Taipei di Washington mengatakan pengiriman dijadwalkan tiba pada bulan Juni.

Vaksin BioNTech, yang dikembangkan AS Pfizer, telah disetujui untuk penggunaan darurat oleh Organisasi Kesehatan Dunia bulan Desember.

Hsiao Bi-khim, duta besar de-facto Taiwan untuk AS, mengatakan karena permintaan vaksin di Taiwan pada awalnya rendah, dia fokus membantu sekutu diplomatik Taipei mengamankan vaksin. Tapi sekarang dia bekerja untuk memastikan pesanan Taiwan dikirim tepat waktu, menurut CNA.

Rendahnya Minat Vaksin

Pemerintah Taiwan meluncurkan program vaksinasi pada akhir Maret, menawarkan suntikan pertama kepada staf medis. Program tersebut kemudian diperluas untuk mencakup petugas polisi, petugas perawatan, orang tua dan militer.

Pada pertengahan April, orang-orang di luar daftar prioritas pemerintah bisa melakukan vaksinasi dengan biaya 600 dolar Taiwan Baru atau ($ 21) per suntikan.

Tapi minat terhadap vaksin rendah, orang-orang masih menikmati kehidupan normal selama berbulan-bulan, pergi ke bar, restoran, konser, dan pertandingan bisbol. disamping ada juga kekhawatiran tentang efek samping atas  laporan pembekuan darah pada orang yang telah menerima vaksin AstraZeneca.

“Selama 1,5 tahun terakhir, Taiwan tidak mengalami wabah besar, sehingga banyak penduduk tidak merasa berada dalam bahaya langsung,” kata Chen Hsiu-hsi, seorang profesor epidemiologi di Universitas Nasional Taiwan. “Inilah sebabnya mengapa tidak banyak orang yang terdorong untuk menggunakan vaksin Covid-19.”

Namun lonjakan kasus bulan ini telah menimbulkan kekhawatiran, membuat beberapa warga bergegas untuk mendapatkan vaksinasi. Sebelum vaksin terbaru dari COVAX tiba pada hari Rabu, Taiwan telah menggunakan dua pertiga dari pasokan dosis vaksin 300.000.

Karena persediaan menipis, pemerintah Taiwan telah menangguhkan program berbayar, menyimpan semua dosis yang tersisa untuk pekerja pelayanan publik, menurut CNA.

Chen Hsiu-hsi, ahli epidemiologi, mengatakan sekitar 30% pekerja medis Taiwan sekarang telah divaksinasi. Ia berharap angka tersebut akan mencapai 50% dengan datangnya 400.000 dosis vaksin AstraZeneca yang baru tiba.

Membuat Vaksin Sendiri

Dalam hal pengembangan vaksin Covid-19 sendiri, Taiwan tertinggal dari AS, Inggris, Jerman, China, dan Rusia.

Tiga kandidat vaksin virus korona di pulau itu menjalani uji klinis Agustus lalu, lima bulan setelah China dan AS mulai menguji kandidat vaksin pertama mereka pada manusia. Sementara beberapa ahli kesehatan menyalahkan pemerintah Taiwan karena tidak memberikan dukungan yang cukup bagi perusahaan obat di pulau itu untuk mengembangkan vaksin, tampaknya mereka akhirnya membuat kemajuan.

Pada hari Selasa, Presiden Tsai Ing-wen mengatakan dua kandidat vaksin Taiwan telah mencapai akhir uji klinis tahap 2. Menurut Tsai, dua vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Taiwan, Medigen Vaccine Biologics Corporation dan United Biomedical, diharapkan tersedia pada akhir Juli, jika mereka mendapatkan izin penggunaan darurat bulan depan.

Chen, ahli epidemiologi, optimis tentang vaksin Taiwan yang dikembangkan di dalam negeri. “Mereka telah melaporkan hasil yang baik dalam uji klinis tahap 2, dan sepertinya mereka juga menanggapi dengan baik varian yang berbeda dalam pengaturan laboratorium.”

Sampai saat itu, kata Chen, Taiwan bergantung pada vaksin dari negara luar untuk menghadapi krisis – tetapi bukan dari tetangga dekatnya Cina yang memiliki pasokan terbesar.

Sumber : https://edition.cnn.com/2021/05/21/asia/taiwan-covid-vaccine-intl-hnk/index.html

Disclaimer  :  ini adalah berita yang diterjemahkan dari harian luar negeri

Published by Nenkreni

hobby baca, nulis, bankers, an independent journalist, writerpreneur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: