Duka di Sekitar Kita


GB. Pemandangan dari jendela Rumah Sakit (dok pribadi)

Akhir mei 2022 dan awal Juni ini kita, terutama aku banyak mendengar kabar nestapa. Kepergian Wak Acih, saudara jauhku tapi sudah dianggap orangtua karena kebaikannya pada keluargaku. Beliau meninggal saat mau berangkat ke rumah sakit. Padahal aku sudah lama berencana menengoknya. Itulah mengapa, jangan pernah menunda kebaikan yang ingin kamu lakukan pada orang lain. Wak acih menderita sakit jantung, dia berjasa waktu aku masih di Serang, mau membantuku mengasuh anak-anak yang masih kecil, Althaf, Alisha, bahkan setelah kepindahanku ke kuningan dia sempat bekerja dua tahun denganku untuk jagain alby dan segala hal yang berbau rumah tangga. Semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah SWT, unttil we meet again di surga Nya Allah, Insya Allah.

Berita kedua, datang dari sahabatnya kakakku, Teh Dewi, orang Sukabumi. Dia dulu sekost sama aku dan kakakku, kamarnya berdampingan, satu kamar mandi dengan kita waktu di Semarang. Padahal semangat hidupnya, cara pandangnya dalam melihat sesuatu full of kindness, dia masih aktif di medsos seperti instagram. kalau aku ikutin beritanya di medsos, dia resign dari pekerjaannya sebagai guru, selama covid fokus mengurus keluarganya termasuk dua buah hatinya, suaminya a norman juga baik, dia orang anyer. Bisa aku bayangkan betapa terpukul keluarga kecilnya oleh kepergian teh dewi. Sejatinya kita semua memang akan kembali, pulang kepada Dzat pemilik ruh ini, Allah SWT.

Berita ketiga, berita nasional, yaitu putranya Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtaz, sungguh pilu mengikuti beritanya, sang putra tercinta terseret arus di sungai aare, Bern, Swiss, dua minggu pencarian akhirnya membuahkan hasil, barusan aku lihat prosesi pemakamamannya di televisi yang menyedot banyak perhatian. Walaupun aku tidak mengenalnya, tapi rasa nesatapa dan kasih sayang rasanya tercurah buat almarhum ERil (nama panggilan almarhum).

Hal keempat, sekarang berpusat didiriku, Alisha anakku yang kedua perempuan sejak senin kemarin badannya demam, sudah diberi paracetamol tapi tidak kunjung reda, akhrinya kamis kemarin di rawat di rumah sakit, kata dokter diagnosa demam berdarah, padahal anaknya lagi ujian di sekolah. Yang bikin auto panik trombositnya turun terus dari 95.000 besoknya ke 88.000 besoknya 63.000. DSA (Dokter spesialis anak) nya udah bilang jangan dipaksa minum jus jambu, angkak, atau lain lain karena gak ngaruh, katanya banyakin minum aja. Tapi lah namanya ikhtiar, sama aku dan suamiku, alisha dikasih aja jus jambu merah, rebusan daun ubi jalar, sari kurma, angkak. Hari ini alhamdulillah trombositnya naik ke 93.000. IKhtiar spiritualnya aku baca surat yasin terus minimal 4 kali sehari, intimnya memohon pada Gusti Allah untuk disembuhkan.

Naas yang kelima, hari rabu aku naik motor ojol pas waktu makan siang, apa daya malang tak dapat ditolak, aku ketabrak mobil guys, untunglah masih selamat, walaupun helm dalemnya yang aku pakai katanya pecah. Aku dibawa ke rumah sakit juga ga sadar, tau tau bangun kayak di film film gitu …wah ini ada dimana ya, bedanya badan ngerasain sakit….ya iyalah orang ngalamin sendiri bukan nonton sinetron. ALhamdulillah dah di rontgen kepala ama badan sih katanya ga ada luka dalem. Tapi ya namanya kecelakaan, badan berasa banget kaku, sama jalan gak gesit, butuh waktu untuk sembuh. Ya Allah LIndungi hamba dan keluarga hamba dan semua umat muslim serta semua makhlukmu di dunia ini. Maafkan aku yang belum dapat menjalankan semua perintah MU, but i try my best, Ya Allah.

Published by Nenkreni

hobby baca, nulis, bankers, an independent journalist, writerpreneur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: